pandiran

Sekedar Berbagi Informasi

Selamat Datang di Pusat “Pengungsian” Kesehatan Masyarakat Samarinda

Pemilihan Kepala Daerah Putaran Ke dua atau Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur sudah dilaksanakan, sudah terlihat siapa yang pasti menang pada Pilkada putaran kedua ini. Janji-janji politik pun telah gencar diucapkan, salah satunya yang saya ingat adalah perbaikan kesehatan masyarakat. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan penting masyarakat disamping kebutuhan papan, dan pangan yang memadai ditambah lagi dengan kebutuhan akan listrik yang sekarang masuk dalam kebutuhan primer. Karena jika tidak ada yang satu (listrik) ini mustahil saya bisa menulis tulisan pada blog ini dengan laptop saya.

Tulisan ini dibuat sebenarnya berdasarkan kegundahan saya melihat pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh rumah sakit pemerintah yang ada di daerah saya (Samarinda, Kalimantan Timur), karena rumah sakit inilah yang menjadi rujukan bagi semua rumah sakit yang ada di Kaltim. Jika anda seperti saya (kalangan ekonomi menengah ke bawah), maka anda dilarang untuk sakit keras, mengapa?

Karena anda pasti hanya akan mampu membayar untuk ruang inap yang ada pada rumah sakit pemerintah, yang pelayanan jauh dibawah predikat memuaskan, padahal pemerintah sudah mengalokasikan dana puluhan milyar bagi peningkatan dan perbaikan pelayanan kesehatan masyarakat. Berdasarkan pengalaman pribadi saya akan buatkan list atau daftar yang tidak dilakukan oleh rumah sakit, sehingga kita tidak mendapatkan pelayanan maksimal:

RSU

  1. Untuk yang menginap dari kelas II (satu ruangan 3 orang pasien), kelas III (satu ruangan lebih dari 5 orang pasien), tidak ada pembatas antar pasien berupa tirai pembatas, sehingga pasti anda akan stress melihat penderitaan pasien di sebelah anda, terutama pasien yang berasal dari kamar bedah.
  2. Pelayanan dari perawat dirasakan kurang maksimal, karena anda hanya akan dilayani oleh perawat mahasiswa yang praktek yang pengalamannya saja masih cetek, jika hendak memasukkan jarum infus maka mesti berkali-kali, gak kebayang kan sakitnya.
  3. Pelayanan pada ruang operasi juga tidak maksimal, saya lihat seseorang setelah keluar dari kamar operasi harus membawa sendiri botol infus ke kamar pasien tanpa diantar oleh perawat atau menggunakan kursi roda yang ada.
  4. Tidak ada shift kerja buat dokter pada hari libur, jika anda dirawat bertepatan dengan hari libur (minggu misalnya) bersiap-siaplah menunggu sehari lagi penderitaan anda, karena senin baru anda akan diperiksa oleh dokter.
  5. Jika anda dirawat di kelas II atau kelas III, maka jika hendak mandi mesti pagi-pagi sekali atau malam sekali karena, air pada kamar mandi pasti akan habis dipakai oleh keluarga pasien yang menginap dan pihak rumah sakit mengalirkan air saat malam saja.
  6. Jika anda berobat pada poliklinik RSU, maka bersiap-siaplah anda menguji kesabaran, karena loket pelayanan pada ruang poliklinik pasti akan molor antara 30 menit sampai dengan 1 jam 45 menit, karena dokternya datangnya ngaret.
  7. Drainase atau saluran air di setiap ruangan pasien atau poliklinik jika anda perhatikan seperti tidak pernah dirawat atau tidak mengalir, dan sudah barang tentu merupakan sarang penyakit, jadi berobat ke RSU atau poliklinik yang ada di RSU akan menambah daftar inventaris penyakit anda.

Berikut adalah list yang saya temukan ketika berobat di RSU yang ada di Samarinda, jika ada teman atau kerabat yang ingin menambahkan dapat memberikan pendapatnya pada kolom comment saya.

October 28, 2008 - Posted by | opini |

3 Comments »

  1. siapa di-opname?

    Comment by panthom | October 28, 2008 | Reply

  2. wueee salam laplame de forestry … btw masih ada acara PMF gak di fahutan unmul?

    Comment by bingungin | November 6, 2008 | Reply

  3. memang … dan perlu juga saya tambahkan, dengan tidak mengurangi rasa hormat pada para perawat dan dokter, betapa jumawanya mereka berjalan di lorong-lorong rumah sakit, hidung terangkat di atas dada, bergerombol tertawa-tawa, seragam putih yang tak pernah ternoda, infuse habis pun bukan mereka yang tahu pertama, saya bayangkan seandainya saya sakit dan tak punya keluarga.

    namun keluarga pasien pun tak kalah jumawa, gelar tikar lebar-lebar menutup sebagian besar lorong, bantal ambal dan termos perlengkapan utama, bertugas menemani saudara yang katanya tak diurus oleh perawatnya.

    sebuah lingkar yang berputar selamanya menjadi budaya.

    Comment by deden | November 7, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: