pandiran

Sekedar Berbagi Informasi

Apa seh pentingnya dasar studi, latar belakang dan bla..bla..bla..

Kata-kata tersebut terlontar pada sebuah milis yang saya ikuti yang ditujukan ke saya, ceritanya begini?

Ada sebuah kawasan lindung, namanya Kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut kebetulan tempat saya melaksanakan penelitian untuk tugas akhir saya, kawasan lindung tersebut berada di Kabupaten Paser tepatnya Kecamatan Muara Komam, jika hendak mencapai tempat tersebut kita harus menempuh jalan darat sepanjang kira 70-80 km dari simpang tiga Long Ikis, dengan menggunakan mobil yang mempunyai penggerak 4 roda atau 4 WD, jika tidak menggunakan 4 WD maka siap-siap aja kalo mau nginap di jalan.

Sesuai dengan peraturan Menteri Kehutanan kawasan tersebut dijadikan sebuah kawasan Hutan Lindung, karena pada kawasan tersebut merupakan hulu dari dua DAS besar yaitu DAS Kendilo dan DAS Telake yang membelah Kabupaten Paser, jika dua DAS besar ini tidak dilindungi maka sudah terbayang bahwa  ibukota Kabupaten Paser yaitu Tanah Grogot pasti tenggelam, kawasan ini mempunyai arti penting karena merupakan salah satu kawasan hutan yang masih tersisa di Kabupaten Paser dan juga termasuk hutan dataran tinggi, karena berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah serta Kabupaten Kutai Barat yang berada di Kalimantan Timur.

Masyarakat yang tinggal di Hutan Lindung Gunung Lumut ini dikenal dengan sebutan orang Muluy, jika berbicara orang Muluy selalu berbicara dengan nada tinggi, jika orang baru kenal maka dikira mereka sedang marah kepada kita, padahal sebenarnya nenek moyang mereka dahulu tinggal di sekitar air terjun sehingga jika berbicara mesti keras supaya terdengar, maka kebiasaan ini terbawa sampai sekarang. Jika menuju Muluy, begitu sebutannya maka kita juga bisa menumpang mobil perusahaan kayu atau HPH yang masih beroperasi namanya PT. Rizki Kaceda Reana atau RKR, kebetulan lahan hutan yang digarap oleh RKR berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut.

Orang Muluy terkenal bijak dalam mengelola sumberdaya alam yang terdapat dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, mereka sudah bermukim sejak 1800-an, dulu hidup mereka selalu berpindah-pindah, setelah pemberontakan DI/TII atau Ibnu Hajar yang berasal dari Kalimantan Selatan maka mereka dimukimkan secara bersama oleh Pemerintah. Orang Muluy merupakan orang kaya, mengapa saya mengatakan demikian? karena mereka jika ingin sesuatu maka tinggal mengambil dalam hutan, misalnya ingin lebah madu tinggal ambil, atau buah-buahan, atau hasil hutan bukan kayu misal rotan, damar. Jadi sangat tidak mungkin memisahkan Orang Muluy dari hutan.

Ada ketakutan dari Orang Muluy, yaitu masuknya perusahaan tambang yang akan merampas hutan mereka, ternyata kawasan ini juga banyak mengandung bahan tambang, bahkan ada seorang pejabat Kaltim yang mencoba merebut kawasan ini untuk ditambang, tetapi tidak berhasil. Selain ancaman dari perusahaan tambang ada juga ancaman dari penjarahan kayu ilegal oleh orang luar yang bukan warga kampung Muluy, tetapi hal ini bisa diantisipasi oleh Orang Muluy dengan mengadakan patroli bersama warga.

Kawasan Hutan Lindung jika menurut peraturan Menteri Kehutanan merupakan kawasan yang dikelola oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Paser, yang tentu saja menggunakan dana APBD Kabupaten Paser, ketika saya melakukan research disana ada wacana yang berkembang bahwa kawasan tersebut akan dijadikan sebuah Kawasan Taman Nasional, hal ini menarik jika dicermati bahwa jika kawasan ini berubah menjadi kawasan Taman Nasional maka otomatis wewenang pengelolaan kawasan berubah menjadi wewenang Pusat atau Departemen Kehutanan dan dananya pun menggunakan APBN, jika kita merunut dari atas maka terlihat jelas bahwa Kabupaten Paser masih kurang rela dana APBDnya digunakan untuk mengelola hutan lindung. Untungnya perubahan status kawasan ini tidak semudah membalik telapak tangan, dan belum tentu disetujui oleh Pemerintah Pusat, pokoknya prosesnya rumit. Apalagi ini baru wacana, maka belum tentu terbukti benar.

Di Kampung Muluy, ada sebuah organisasi NGO (Non Governance Organization) atau LSM yang bekerja mendampingi Orang Muluy, mereka terbilang cukup lama tepatnya saya kurang tahu, mendampingi masyarakat Muluy, baik itu berupa penguatan organisasi, kelembagaan, usaha ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Yang saya heran dari NGO ini setelah cukup lama mereka tidak juga melepas masyarakat untuk mandiri sampai dengan sekarang, terus mendampingi, ketakutan saya adalah nanti masyarakat disana akan terus bergantung dengan NGO ini. Bahkan yang menarik adalah baru-baru ini masyarakat Muluy diwawancara oleh majalah Gatra dengan tema utama adalah masyarakat Muluy menolak Taman Nasional, isu ini telah lama padam karena seperti saya bilang di atas merubah status sebuah kawasan tidak semudah membalik telapak tangan perlu kajian-kajian research dan penilaian-penilaian tersendiri.

Bahkan hal ini sudah saya sampaikan ke mantan pimpinan NGO ini, dan dia mengatakan bahwa yang namanya peraturan yang juga sampe sekarang gak beres-beres, dasar study dan latar belakang yang bagaimana lagi..??? jadi gak usah sok pintar dah. Janganlah kau tambah lagi proses “pembodohan” dan “penindasan” intelektual masyarakat lokal, inilah perkataannya…

Bingung deh…

February 13, 2008 - Posted by | opini

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: