pandiran

Sekedar Berbagi Informasi

apa seh yang dicari?

Kalimat tersebut terlontar saat perjalanan antara Samarinda-Balikpapan (24/01/08), hari itu saya mendapatkan pelajaran mengenai arti hidup, banyak dari kita belum menyadari apa seh yang dicari dalam hidup, bagaimana kita menghargai hidup kita selama ini, sudah berapa banyak keputusan yang telah kita ambil?

Jika kita runut satu persatu keputusan apa yang telah kita ambil dalam hidup ini, kita akan melihat bahwa semua keputusan yang telah kita ambil telah mempunyai jalan masing-masing, disetiap keputusan yang kita ambil  ada persimpangan lain yang menunggu kita di depan, dan kadang sebagai insan manusia kita tidak tahu halangan apa yang menghadang kita.

Kembali pada kalimat headline di atas, apa seh yang kita cari? Pertanyaan ini saya yakin pasti akan muncul pada benak kepala kita, ditengah kesibukan mencari yang namanya materi, pasti sekilas terbesit di kepala kita. Jika saya bisa menjawab pertanyaan itu, saya akan mencari sesuatu yang membuat saya senang, membuat hati bahagia, hidup penuh dengan cinta, dan bla..bla..bla.. Sangat banyak yang saya cari dalam hidup ini tapi yang pasti adalah bukan mencari materi sebagai tujuan hidup saya.

Tulisan ini saya buat sebagai bahan renungan bahwa, banyak hal diluar sana yang kita bisa perbuat untuk membuat orang lain bahagia, dan saya sedang mencoba mencari sesutau yang bisa buat orang bahagia.

February 15, 2008 Posted by | opini | 2 Comments

Apa seh pentingnya dasar studi, latar belakang dan bla..bla..bla..

Kata-kata tersebut terlontar pada sebuah milis yang saya ikuti yang ditujukan ke saya, ceritanya begini?

Ada sebuah kawasan lindung, namanya Kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut kebetulan tempat saya melaksanakan penelitian untuk tugas akhir saya, kawasan lindung tersebut berada di Kabupaten Paser tepatnya Kecamatan Muara Komam, jika hendak mencapai tempat tersebut kita harus menempuh jalan darat sepanjang kira 70-80 km dari simpang tiga Long Ikis, dengan menggunakan mobil yang mempunyai penggerak 4 roda atau 4 WD, jika tidak menggunakan 4 WD maka siap-siap aja kalo mau nginap di jalan.

Sesuai dengan peraturan Menteri Kehutanan kawasan tersebut dijadikan sebuah kawasan Hutan Lindung, karena pada kawasan tersebut merupakan hulu dari dua DAS besar yaitu DAS Kendilo dan DAS Telake yang membelah Kabupaten Paser, jika dua DAS besar ini tidak dilindungi maka sudah terbayang bahwa  ibukota Kabupaten Paser yaitu Tanah Grogot pasti tenggelam, kawasan ini mempunyai arti penting karena merupakan salah satu kawasan hutan yang masih tersisa di Kabupaten Paser dan juga termasuk hutan dataran tinggi, karena berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah serta Kabupaten Kutai Barat yang berada di Kalimantan Timur.

Masyarakat yang tinggal di Hutan Lindung Gunung Lumut ini dikenal dengan sebutan orang Muluy, jika berbicara orang Muluy selalu berbicara dengan nada tinggi, jika orang baru kenal maka dikira mereka sedang marah kepada kita, padahal sebenarnya nenek moyang mereka dahulu tinggal di sekitar air terjun sehingga jika berbicara mesti keras supaya terdengar, maka kebiasaan ini terbawa sampai sekarang. Jika menuju Muluy, begitu sebutannya maka kita juga bisa menumpang mobil perusahaan kayu atau HPH yang masih beroperasi namanya PT. Rizki Kaceda Reana atau RKR, kebetulan lahan hutan yang digarap oleh RKR berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut.

Orang Muluy terkenal bijak dalam mengelola sumberdaya alam yang terdapat dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, mereka sudah bermukim sejak 1800-an, dulu hidup mereka selalu berpindah-pindah, setelah pemberontakan DI/TII atau Ibnu Hajar yang berasal dari Kalimantan Selatan maka mereka dimukimkan secara bersama oleh Pemerintah. Orang Muluy merupakan orang kaya, mengapa saya mengatakan demikian? karena mereka jika ingin sesuatu maka tinggal mengambil dalam hutan, misalnya ingin lebah madu tinggal ambil, atau buah-buahan, atau hasil hutan bukan kayu misal rotan, damar. Jadi sangat tidak mungkin memisahkan Orang Muluy dari hutan.

Ada ketakutan dari Orang Muluy, yaitu masuknya perusahaan tambang yang akan merampas hutan mereka, ternyata kawasan ini juga banyak mengandung bahan tambang, bahkan ada seorang pejabat Kaltim yang mencoba merebut kawasan ini untuk ditambang, tetapi tidak berhasil. Selain ancaman dari perusahaan tambang ada juga ancaman dari penjarahan kayu ilegal oleh orang luar yang bukan warga kampung Muluy, tetapi hal ini bisa diantisipasi oleh Orang Muluy dengan mengadakan patroli bersama warga.

Kawasan Hutan Lindung jika menurut peraturan Menteri Kehutanan merupakan kawasan yang dikelola oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Paser, yang tentu saja menggunakan dana APBD Kabupaten Paser, ketika saya melakukan research disana ada wacana yang berkembang bahwa kawasan tersebut akan dijadikan sebuah Kawasan Taman Nasional, hal ini menarik jika dicermati bahwa jika kawasan ini berubah menjadi kawasan Taman Nasional maka otomatis wewenang pengelolaan kawasan berubah menjadi wewenang Pusat atau Departemen Kehutanan dan dananya pun menggunakan APBN, jika kita merunut dari atas maka terlihat jelas bahwa Kabupaten Paser masih kurang rela dana APBDnya digunakan untuk mengelola hutan lindung. Untungnya perubahan status kawasan ini tidak semudah membalik telapak tangan, dan belum tentu disetujui oleh Pemerintah Pusat, pokoknya prosesnya rumit. Apalagi ini baru wacana, maka belum tentu terbukti benar.

Di Kampung Muluy, ada sebuah organisasi NGO (Non Governance Organization) atau LSM yang bekerja mendampingi Orang Muluy, mereka terbilang cukup lama tepatnya saya kurang tahu, mendampingi masyarakat Muluy, baik itu berupa penguatan organisasi, kelembagaan, usaha ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Yang saya heran dari NGO ini setelah cukup lama mereka tidak juga melepas masyarakat untuk mandiri sampai dengan sekarang, terus mendampingi, ketakutan saya adalah nanti masyarakat disana akan terus bergantung dengan NGO ini. Bahkan yang menarik adalah baru-baru ini masyarakat Muluy diwawancara oleh majalah Gatra dengan tema utama adalah masyarakat Muluy menolak Taman Nasional, isu ini telah lama padam karena seperti saya bilang di atas merubah status sebuah kawasan tidak semudah membalik telapak tangan perlu kajian-kajian research dan penilaian-penilaian tersendiri.

Bahkan hal ini sudah saya sampaikan ke mantan pimpinan NGO ini, dan dia mengatakan bahwa yang namanya peraturan yang juga sampe sekarang gak beres-beres, dasar study dan latar belakang yang bagaimana lagi..??? jadi gak usah sok pintar dah. Janganlah kau tambah lagi proses “pembodohan” dan “penindasan” intelektual masyarakat lokal, inilah perkataannya…

Bingung deh…

February 13, 2008 Posted by | opini | Leave a comment

Lumba-lumba Air Tawar Ditemukan di Sesayap

Selasa, 12 Februari 2008 | 12:11 WITA

Jakarta, Kompas – Habitat baru lumba-lumba air tawar atau Orcaella
brevirostis ditemukan di Sungai Sesayap, perbatasan Kabupaten MaPesut Mahakam (foto Yayasan RASI)linau dan
Kabupaten Tanah Tidung, Kalimantan Timur, oleh tim survei dari Balai Taman
Nasional Kayan Mentarang. Penemuan ini sangat berarti dari sisi ilmu
pengetahuan karena pesut atau lumba-lumba air tawar yang hampir punah ini
sebelumnya hanya ditemukan di Sungai Mahakam dan Teluk Balikpapan,
Kalimantan Timur.

“Tidak mungkin hewan mamalia air tawar tersebut migrasi dari Sungai Mahakam
ke Sungai Sesayap karena jaraknya ribuan kilometer dan terpisahkan laut,”
kata Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang IGNN Sutedja ketika
dihubungi dari Jakarta, Senin (11/2).

Menurut Sutedja, pesut atau lumba-lumba air tawar tersebut ditemukan tim
survei Taman Nasional Kayan Mentarang ketika menyusuri Sungai Sesayap,
Senin. Sekitar pukul 10.11 Wita di sekitar Teluk Sesino terlihat seekor
pesut muda yang muncul ke permukaan air dan langsung direkam kamera video.
Sekitar pukul 16.10 kembali terlihat enam ekor pesut di sekitar perairan
Lubok Langit sehingga dalam sehari teridentifikasi tujuh ekor pesut.

Budi Hartono, penggiat lingkungan dari Matoa Albarits yang ikut melakukan
survei, mengatakan, taksonomi pesut Sungai Sesayap dengan pesut Sungai
Mahakam kemungkinan besar sama. “Klasifikasi dan identifikasi pesut di kedua
habitat yang berbeda tersebut harus dikaji lebih lanjut,” ujarnya.

Meski sering disebut lumba-lumba air tawar, pesut sebenarnya bukan
lumba-lumba. Dari segi bentuknya saja, pesut memiliki bentuk muka lebar,
dahi menonjol, dan tidak memiliki moncong. Selain itu, celah bibir pesut
membentang ke belakang dengan posisi naik mendekati mata. Adapun lumba-lumba
bentuknya “lebih cantik” dengan kepala lonjong, memiliki moncong, dan mulut
membentang pendek ke belakang dengan posisi mendatar.

Jika lumba-lumba perilakunya atraktif, pesut justru sedikit pendiam. Jika
lumba-lumba melaju kencang saat berenang dan sesekali meloncat ke atas
permukaan air, pesut justru sebaliknya. Pesut berenang dengan gerakan yang
sangat kalem. (THY)

February 12, 2008 Posted by | Berita Borneo | 4 Comments

Online…

Kata online sering kita dengar tiap hari, bahkan bagi orang yang berurusan dengan Bank, kata “online” tidak asing lagi terdengar, tetapi tahukah bahwa jaman sekarang ini, jamannya era komputerisasi dimana dunia IT berkembang dengan pesat sekali, ternyata masih ada Bank yang tidak online pada kantor cabangnya.

Hal ini terbukti pada saat seorang kolega minta dibayarkan uang SPP Universitas Terbuka melalui rekening Bank tersebut saya membayarnya pada kantor cabang tetapi petugasnya bilang bahwa kantor cabang ini tidak online, mau bukti?
Coba aja anda ke Bank BRI Cabang yang ada di Samarinda, ada beberapa cabang yang tidak online, sialnya saya sudah menunggu antrian kira-kira 1 jam… huh…

Tetapi jangan salah, ketika saya pergi kepada Kantor Cabang Utama BRI Samarinda, ternyata ada hotspot gratisan, saya yang semula sudah pasang muka cemberut ketika memasuki bank ini berubah ceria, sambil menunggu kita bisa berinternet ria, dan blog ini ditulis sembari menunggu antrian yang tak berujung.

February 5, 2008 Posted by | Iseng | Leave a comment