pandiran

Sekedar Berbagi Informasi

Identitas Suara Paus Unicorn

paus3Setiap paus narwhal (Monodon monoceros) juga menggunakan suara untuk berkomunikasi satu sama lain seperti halnya lumba-lumba atau ikan paus lainnya. Bahkan, masing-masing kemungkinan memiliki suara unik yang juga menunjukkan identitasnya.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa mamalia laut menggunakan sinyal suara untuk berkomunikasi satu sama lain di dalam air. Penelitian terakhir bahkan menunjukkan bahwa paus punya dialek.

Namun, belum banyak penelitian yang mempelajari identitas suara seperti yang diguankan paus narwhal. Para penelitinya yakin paus narwhal menggunakan suara untuk mengenali sesamanya dan membedakan satu individu dengan individu lainnya.

Hal tersebut disimpulkan para ilmuwan setelah mempelajari suara tiga ekor narwhal di Teluk Admiralty di Pulau Baffin, Kanada. Mereka menggunakan perekam elektronik yang ditempel di badan mamalia raksasa tersebut.

“Untuk pertama kalinya, kami benar-benar dapat mengikuti hewan tersebut kapan saja mereka bersuara dan ke mana saja mereka bergerak,” kata Ari Shapiro dari the Woods Hole Oceanographic Institution.

Meskipun salah satu alat perekamnya hilang, dua yang tersisa  telah menunjukkan bentuk suara yang berlainan, berupa suara siulan dan denyutan. Shapiro menunjukkan bahwa kedua jenis suara bukanlah sinyal yang dipakai untuk bertukar informasi mengenai sumber makanan, tapi sekedar menunjukkan identitas individu dalam komunikasi sosial.

Apa yang dilakukan paus narwhal mirip dengan lumba-lumba hidung botol yang juga mengeluarkan suara siulan untuk berkomunikasi. Meskipun data-data mengenai komunikasi di antara paus narwhal masih minim, para ilmuwan yakin ia memiliki pendengaran yang sangat peka seperti halnya paus lainnya.

Mereka rutin melakukan migrasi hingga ribuan kilometer dan berkelompok. Maka dengan suara yang berbeda-beda, masing-masing dapat membedakan individu dalam kelompoknya atau kelompok lainnya. Hasil penelitian ini dimuat dalam Journal of Acoustical Society of America edisi September 2006.

Unicorn

Hidup di sekitar perairan Kutub Utara, paus narwhal adalah jenis paus bergigi (toothed whale) namun tidak memiliki gigi di dalam mulutnya. Sebaliknya, ia memiliki tanduk yang tumbuh di rahang atas dengan panjang mencapai 1,8 meter.

Fungsi taringnya, yang mirip dengan tanduk kuda Unicorn dalam mitos, belum banyak diketahui. Sejauh ini, para ilmuwan baru mengetahui bahwa tanduknya dipakai untuk mengukur salinitas air dan mencari makanan. Mungkin ada kaitannya dengan identitas sosial juga karena hanya paus jantan yang memilikinya.

Taring paus narwhal merupakan salah satu benda yang diperkirkan melahirkan mitos kuda Unicorn. Tanduk tersebut mungkin dibawa bangsa Viking ke Eropa hingga Timur Jauh di zaman pertengahan. Karena asal-usulnya tidak diketahui para pembelinya, muncullah mitos Unicorn di beberapa kebudayaan, seperti China dan India, yang digambarkan sebagai kuda bertanduk.

Sumber: LiveScience.com

March 30, 2007 Posted by | Berita Ringan | 1 Comment

Rahasia Bahasa Paus Biru Terpecahkan

pausJauh di bawah permukaan laut, paus biru diketahui mengeluarkan senandung tembang. Kini, para peneliti mengetahui mengapa mereka melakukannya setelah melakukan serangkaian survai dan rekaman langsung perilaku hewan sebesar pesawat jet komersil itu di habitatnya.

Menggunakan label transmiter yang ditempelkan ke tubuh sejumlah paus biru, para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography dapat melacak pergerakan paus. Mereka juga dapat membedakan irama nyanyian paus dari rekaman yang terpasang bersama alat pemancar gelombang radio itu.

Dari hasil pemantauan itu, mereka menemukan bahwa saat menemukan makanan, paus biru akan mengeluarkan isyarat suara kepada paus lainnya untuk menunjukkan lokasi sumber makanan tersebut. Setiap kelompok paus punya isyarat suara yang berbeda.

Iyarat tersebut memainkan peranan penting seperti halnya pola nyanyian yang juga dikeluarkannya saat musim kawin. Temuan ini dilaporkan dalam Marine Ecology Progress Series Journal edisi 25 Januari.

Saat kawin, paus jantan diketahui mengeluarkan nyanyian panjang dengan ketukan pendek untuk menunjukkan kejantanannya kepada lawan jenisnya. Paus betina kemudian akan memilih pejantan yang berkualitas berdasarkan ukuran tubuh. Bukan dengan melihatnya, tapi memperkirakan ukuran pejantan dari suaranya. Pejantan yang lebih besar dapat mengambil udara di permukaan lebih banyak sehingga dapat mengeluarkan nyanyian lebih panjang.

Sebelumnya, penelitian serupa yang juga dilakukan para peneliti Scripps telah menemukan bahwa paus memiliki dialek berbeda-beda sesuai wilayah jelajahnya. Menurut para peneliti, temuan-temuan ini bisa menjadi pedoman dalam usaha konservasi paus. Misalnya paus biru yang hidup di perairan belahan Bumi selatan, populasinya di alam diperkirakan tinggal sekitar1.000 ekor dari perkiraan semula antara 200 ribu hingga 300 ribu

Sumber: LiveScience.com

March 30, 2007 Posted by | Berita Ringan | Leave a comment

Rekor ukuran katak tebu Australia

katakSeekor katak tebu raksasa sebesar anjing kecil ditemukan di Australia utara dan dijuluki Toadzilla.

Toadzilla merupakan katak tebu raksasa yang pernah ditemukan di Australia utara.

Katak ini berobot sekitar 1kg, kata kelompok pecinta lingkungan.

Para pecinta lingkungan mencoba menghentikan penyebaran hewan beracun ini di kawasan tropis Australia.

Katak ini didatangkan dari Hawaii pada tahun 1930-an untuk memerangi kumbang tebu Australia, namun upaya ini gagal.

Toadzilla ditemukan saat warga beramai-ramai memburu katak tersebut di Darwin. Warga diimbau agar ikut menghentikan penyebaran hama yang sangat tidak dikehendaki.

Meracuni

Katak tebu pertama kali dilepaskan di Queensland dan sejak saat itu berkembang menjadi jutaan ekor dan bergerak ke seluruh Australia.

Mereka cepat sekali berkembang biak. Ada yang memperkirakan jumlah mereka mencapai 200 juta ekor.

Mereka tidak diragukan lagi menimbulkan dampak bagi lingkungan.map

Mereka meracuni banyak satwa asli, termasuk buaya yang mati setelah melahap mereka.

Populasi sebagian ular, katak dan hewan kecil berkantung juga sangat menderita akibat katak ini.

Seorang anggota parlemen Northern Territory pernah mengatakan, katak itu sudah sangat mengancam sehingga wara seyogyanya menyerang mereka dengan tongkat golf untuk mengendalikan jumlah mereka.


Sumber: BBCIndonesia.com

March 27, 2007 Posted by | Berita Ringan | 3 Comments

Pingin Kuat Ingatan? Cium Mawar

mawarBunga mawar tak hanya dapat dipakai untuk menyatakan cinta dan kasih sayang tapi juga memacu ingatan. Sebab, aroma bunga mawar terbukti dapat meningkatkan aktivitas memori ingatan di otak.

Seperti dilaporkan jurnal Science, para peneliti dari Jerman melakukan percobaan untuk membuktikan apakah wewangian tertentu dapat merangsang memori otak meski seseorang dalam keadaan tidur. Untuk itu, Jan Born dari Universitas Lubeck dan koleganya meminta 74 sukarelawan bermain memasang-masangkan objek di komputer hingga tuntas. Dalam permainan ini, tentu saja mereka dituntut menghafal lokasi setiap objek.

Saat bermain, sebagian orang menghirup semerbak wangi mawar. Masing-masing kemudian diminta memejamkan mata hingga tidur dengan kepala di dalam tabung MRI (magnetic resonance imaging). Alat pencitra magnetik ini digunakan untuk mengamati aktivitas otak setiap orang selama tidur. Sepanjang tidur, Born juga memberikan aroma wewangian mawar kepada beberapa orang.

Di hari berikutnya, mereka diuji lagi dengan permainan yang sama. Ternyata, orang-orang yang saat tidur mencium aroma mawar dapat mengingat posisi pasangan kartu dengan tingkat ketepatan rata-rata hingga 97,2 persen. Sedangkan yang tidak mencium aroma mawar saat tidur hanya dapat mengingat dengan ketepatan 86 persen. Pemindai MRI juga menampilkan bahwa hippocampus, bagian otak yang berperan dalam proses pembelajaran, aktif saat seseorang yang tengah tidur mencium aroma mawar.

Hal ini menunjukkan bahwa aroma mawar mungkin merangsang kerja memori otak saat seseorang tidur. Hal yang sama telah terbukti pada penelitian sebelumnya terhaap tikus dan burung pengicau. Saat tidur, tikus mengasah kemampuannya menemukan jalan keluar labirin dan burung pengicau mengasah kemampuan kicauan baru yang diperkenalkan kepadanya.

Meski demikian cara belajar yang dilakukan manusia saat tidur belum dipastikan apakah sama dengan hewan atau tidak. Hal tersebut masih perlu diteliti lebih jauh sebab para peneliti menemukan kalau kualitas tidur juga berperan. Aroma mawar hanya meningkatkan kualitas ingatan jika seseorang tidur nyaman (slow-wave sleep) namun tak berpengaruh sama sekali pada orang yang tidur mendadak (rapid eye movement atau REM sleep).

Jadi, kalau ingin Anda terus diingat, jangan lupa bawa mawar yang wangi dan meminta kekasih Anda untuk menyimpan mawar pemberian Anda dekat peraduannya ya.

Sumber: Reuters

March 25, 2007 Posted by | cinta | 3 Comments

Mengenal Gajah Sumatera

gajah1

Mengenal Gajah Sumatera

I. Habitat
Gajah banyak melakukan pergerakan dalam wilayah jelajah yang luas sehingga menggunakan lebih dari satu tipe habitat.

a.      Hutan rawa;

Tipe hutan ini dapat berupa rawa padang rumput, hutan rawa primer, atau hutan rawa sekunder yang didominasi oleh Gluta renghas, Campenosperma auriculata, C. Macrophylla, Alstonia spp, dan Eugenia spp.

b.       Hutan rawa gambut;

Jenis-jenis vegetasi pada tipe hutan ini antara lain: Gonystilus bancanus, Dyera costulata, Licuala spinosa, Shorea spp., Alstonia spp., dan Eugenia spp.

c.       Hutan dataran rendah;

Yaitu tipe hutan yang berada pada ketinggian 0-750 m di atas permukaan air laut. Jenis-jenis vegetasi yang dominan adalah jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae.

d.      Hutan hujan pegunungan rendah;

Yaitu tipe hutan yang berada pada ketinggian 750-1.500 m di atas permukaan air laut. Jenis-jenis vegetasi yang dominan adalah Altingia excelsa, Dipterocarpus spp., Shorea spp., Quercus spp., dan Castanopsis spp.

II. Persyaratan Hidup di Alam


1.      Naungan

Gajah Sumatera termasuk binatang berdarah panas sehingga jika kondisi cuaca panas mereka akan bergerak mencari naungan (thermal cover) untuk menstabilkan suhu tubuhnya agar sesuai dengan lingkungannya. Tempat yang sering dipakai sebagai naungan dan istirahat pada siang hari adalah vegetasi hutan yang lebat

2.      Makanan

Gajah Sumatera termasuk satwa herbivora sehingga membutuhkan ketersediaan makanan hijauan yang cukup di habitatnya. Gajah juga membutuhkan habitat yang bervegetasi pohon untuk makanan pelengkap dalam memenuhi kebutuhan mineral kalsium guna memperkuat tulang, gigi, dan gading. Karena pencernaannya yang kurang sempurna, ia membutuhkan makanan yang sangat banyak, yaitu 200-300 kg biomassa per hari untuk setiap ekor gajah dewasa atau 5-10% dari berat badannya.

3.      Air

Gajah termasuk satwa yang sangat bergantung pada air, sehingga pada sore hari biasanya mencari sumber air untuk minum, mandi dan berkubang. Seekor gajah Sumatera membutuhkan air minum sebanyak 20-50 liter/hari. Ketika sumber-sumber air mengalami kekeringan, gajah dapat melakukan penggalian air sedalam 50-100 cm di dasar-dasar sungai yang kering dengan menggunakan kaki depan dan belalainya.

4.      Garam mineral

Gajah juga membutuhkan garam-garam mineral, antara lain : calcium, magnesium, dan kalium. Garam-garam ini diperoleh dengan cara memakan gumpalan tanah yang mengandung garam, menggemburkan tanah tebing yang keras dengan kaki depan dan gadingnya, dan makan pada saat hari hujan atau setelah hujan.

5.      Ruang atau wilayah jelajah (home range)

Gajah merupakan mamalia darat paling besar yang hidup pada zaman ini, sehingga membutuhkan wilayah jelajah yang sangat luas. Ukuran wilayah jelajah gajah Asia bervariasi antara 32,4 – 166,9 km2. Wilayah jelajah unit-unit kelompok gajah di hutan-hutan primer mempunyai ukuran dua kali lebih besar dibanding dengan wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder.

6.      Keamanan dan kenyamanan

Gajah juga membutuhkan suasana yang aman dan nyaman agar perilaku kawin (breeding) tidak terganggu dan proses reproduksinya dapat berjalan dengan baik. Gajah termasuk satwa yang sangat peka terhadap bunyi-bunyian. Oleh karena itu, penebangan hutan yang dilakukan oleh perusahaan HPHA diperkirakan telah mengganggu keamanan dan kenyamanan gajah karena aktivitas pengusahaan dengan intensitas yang tinggi dan penggunaan alat-alat berat di dalamnya.

III. Perilaku
A. Perilaku sosial

1.      Hidup berkelompok

Di habitat alamnya, gajah hidup berkelompok (gregarius). Perilaku berkelompok ini merupakan perilaku sosial yang sangat penting peranannya dalam melindungi anggota kelompoknya. Besarnya anggota setiap kelompok sangat bervariasi tergantung pada musim dan kondisi sumber daya habitatnya terutama makanan dan luas wilayah jelajah yang tersedia. Jumlah anggota satu kelompok gajah Sumatera berkisar 20-35 ekor, atau berkisar 3-23 ekor.
Setiap kelompok gajah Sumatera dipimpin oleh induk betina yang paling besar, sementara yang jantan dewasa hanya tinggal pada periode tertentu untuk kawin dengan beberapa betina pada kelompok tersebut. Gajah yang sudah tua akan hidup menyendiri karena tidak mampu lagi mengikuti kelompoknya. Gajah jantan muda dan sudah beranjak dewasa dipaksa meninggalkan kelompoknya atau pergi dengan suka rela untuk bergabung dengan kelompok jantan lain. Sementara itu, gajah betina muda tetap menjadi anggota kelompok dan bertindak sebagai bibi pengasuh pada kelompok “taman kanak-kanak” atau kindergartens.

2.       Menjelajah

Secara alami gajah melakukan penjelajahan dengan berkelompok mengikuti jalur tertentu yang tetap dalam satu tahun penjelajahan. Jarak jelajah gajah bisa mencapai 7 km dalam satu malam, bahkan pada musim kering atau musim buah-buahan di hutan mampu mencapai 15 km per hari. Kecepatan gajah berjalan dan berlari di hutan (untuk jarak pendek) dan di rawa melebihi kecepatan manusia di medan yang sama. Gajah juga mampu berenang menyeberangi sungai yang dalam dengan menggunakan belalainya sebagai “snorkel” atau pipa pernapasan.
Selama menjelajah, kawanan gajah melakukan komunikasi untuk menjaga keutuhan kelompoknya. Gajah berkomunikasi dengan menggunakan soft sound yang dihasilkan dari getaran pangkal belalainya. Dewasa ini ditemukan bahwa gajah juga berkomunikasi melalui suara subsonik yang bisa mencapai jarak sekitar 5 km. Penemuan ini telah memecahkan misteri koordinasi pada kawanan gajah yang sedang mencari makanan dalam jarak jauh dan saling tidak melihat satu sama lain.

3.      Kawin

Gajah tidak mempunyai musim kawin yang tetap dan bisa melakukan kawin sepanjang tahun, namun biasanya frekwensinya mencapai puncak bersamaan dengan masa puncak musim hujan di daerah tersebut. Gajah jantan sering berperilaku mengamuk atau kegilaan yang sering disebut musht dengan tanda adanya sekresi kelenjar temporal yang meleleh di pipi, antara mata dan telinga, dengan warna hitam dan berbau merangsang. Perilaku ini terjadi 3-5 bulan sekali selama 1-4 minggu. Perilaku ini sering dihubungkan dengan musim birahi, walaupun belum ada bukti penunjang yang kuat.

B. Perilaku individu

1.      Makan

Gajah merupakan mamalia terrestrial yang aktif baik di siang maupun malam hari. Namun, sebagian besar dari mereka aktif dari 2 jam sebelum petang sampai 2 jam setelah fajar untuk mencari makan. Hal ini sependapat bahwa, gajah sering mencari makan sambil berjalan di malam hari selama 16-18 jam setiap hari. la bukan satwa yang hemat terhadap pakan sehingga cenderung meninggalkan banyak sisa makanan bila masih terdapat makanan yang lebih baik.

2.      Minum

Pada waktu berendam di sungai, gajah minum dengan mulutnya. Sementara, pada waktu di sungai yang dangkal atau di rawa gajah menghisap dengan belalainya. Gajah mampu menghisap mencapai 9 liter air dalam satu kali isap.

3.      Berkubang

Gajah sering berkubang di lumpur pada waktu siang atau sore hari di saat sambil mencari minum. Perilaku berkubang juga penting untuk melindungi kulit gajah dari gigitan serangga ektoparasit, selain untuk mendinginkan tubuhnya.

4.      Menggaram (salt lick)

Gajah mencari garam dengan menjilat-jilat benda dan apapun yang mengandung garam dengan belalainya. Gajah juga sering melukai bagian tubuhnya agar dapat menyikat darahnya yang mengandung garam.

5.      Beristirahat

Gajah tidur dua kali sehari, yaitu pada tengah malam dan siang hari. Pada malam hari, gajah sering tidur dengan merebahkan diri kesamping tubuhnya, memakai “bantal” terbuat dari tumpukan rumput dan kalau sudah sangat lelah terdengar pula bunyi dengkur yang keras. Sementara itu, pada siang hari gajah tidur sambil berdiri di bawah pohon yang rindang. Perbedaan perilaku ini, mungkin berkaitan dengan kondisi keamanan lingkungan. Apabila kondisinya kurang aman maka gajah akan memilih tidur sambil berdiri, untuk menyiapkan diri jika terjadi gangguan.

IV. Reproduksi

Di dalam pemeliharaan, gajah dapat mencapai umur 70 tahun , dan selama hidupnya gajah jantan tidak terikat pada satu ekor betina pasangannya. Gajah betina siap bereproduksi setelah berumur 8-10 tahun, sementara gajah jantan setelah berumur 12-15 tahun. Gajah betina mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, lama kehamilan 19-21 bulan dan hanya melahirkan 1 ekor anak dengan berat badan lebih kurang 90 kg. Seekor anak gajah akan menyusu selama 2 tahun dan hidup dalam pengasuhan selama 3 tahun.

sumber:wwf.or.id

March 23, 2007 Posted by | Telinga Besar | 2 Comments